Senin, 13 Juni 2016

Dongeng


          Pagi hari ditengah ruangan ini adalah kesunyian yang tetap terasa purba. Sunyi senyap yag selalu membuatku merasa terpencil dan asing. Ibarat angain yang menggoyangkan cemara senja. Aku sudah terlalu hapal. Tapi tidak dengannya. Seorang tua yang selalu duduk tersudut dibawah cemara, hingga kelam dan pekat menjadi sahabat. Suatu saat ketika anda sengaja berkunjung ke rumahnya. Akan anda temui dia dengan segala kesederhanaannya. Ketika anda membuka pintu, ruang denga sepasang kursi dan meja tamu sederhana akan segera menyapa anda. Juga seulas senyum manis berbingkai kayu yang tak kalah ramahnya, akan menggerakkan otot motorik mulut anda untuk membentuk seulas senyum.
          Setelah berjalan beberapa langkah saja ke arah kiri akan anda temui satu tempat tidur kecil dan kasur keras yang setiamenemani lelaki itu menyelami usia senjanya. Tak nampak sedikitpun rasa enggan ataupun bosan. Meski bisa kia lihat kerapuhan mulai bertahta di sana. Memang sejauh ini tak ada yang istimewa! Tapi mari kita menuju satu ruangan terakhir rumah ini. Nampak jelas puluhan kerajinan rotan yang berjejer rapi yang usianya tak kalah tua dengan pemiliknya.
          Lima tahun yang lalu jari-jari lincah yang cekatan itu menyulap puluhan gulungan rotan itu menjadi benda yang unik dan menarik. Hingga aku pun tak pernah bisa memilikinya. Harganya memang tak seberapa bagiku. Tapi, baginya logam-logam itu adalah cucuran keringatnya dan akan segera mengisi perut kosong itu dengan sepiring nasi. Aku bisa memanggilnya kakek.
          Tak pernah terlintas sedikitpun dibenakku saat itu. Kenapa ia begitu kuat? Berjuang tanpa keluarga dan kerabatnya di usianya yang senja ini. Terkadang ikut menetes pula air mataku. Ketika pada suatu kesempatan aku melihatnya menawarkan aneka kerajinan, digerbang sekolah seusai pelajaran. Tetapi anak-anak berseragam putih abu yang seharusnya lebih bermoral itu justru tak sedikitpun memperhatikannya.
          Ketika seorang siswi yang berdandan ala model dengan sengaja menyenggolnya hingga barang itu jatuh berantakan. Justru ia memarahi kakek malang itu. Aku merasa sangat terhina dengan kelakuannya, Kuhampiri kakek itu dan segera mengajaknya pergi. Dengan susah payah ia menyeret satu kakinya untuk mengimbangiku. Aku merasakan cemoohan dan gunjingan mengantar kepergian kami. Tapi toh, aku enggak peduli. Mungkin mereka pikir seorang ynag cacat tak pantas bergaul dengan mereka, karena hanya menjadi hal yang pantas dipermalukan.


*               *                 *
         
Suatu siang aku berkunjung kerumah kakek . Ia bercerita tentang sanak keluarga yang mengasingkannya karena kecacatan dan kemiskinan yang begitu bersahabat dengannya. Ia juga bercerita tentang perjuangannya untuk menjaga sehelai nyawa agar tetap tegak ditempatnya. Tak sedikitpun kesedihan merajai angannya. Ia tersenyum dan memperlihatkan gusinya yang mulai ompong. Aku pun tertawa . “Nak ,selagi kita bisa, berjalanlah terus dan jangan pernah berhenti sebelum kita merasai hasi dari usaha yang kita lakukan. Kecacatan bukanlah kekalahan, kelengkapan bukan pula suatu kemenangan. Tapi bisa menerima keadaan apapun yang diperuntukkan oleh Tuhan untuk kita. Itulah kemenangan yang sempurna”.
          Satu pesan yang terpatri selalu di relung hatiku. Sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi. Aku tahu dia sudah sampai ke tempat yang tertinggi. Higga tak seorangpun bisa menggapainya. Diary... Itu cerita pengantar tidur yang pernah mendiang Ibu ceritakan kepada Reva. Dua tahun silam, sekaligus menjadi dongeng wasiat darinya karena tak lama setela itu Ibu meninggal.
          Terkadang di benakku merasa heran. Kenapa seakan Ibu begitu tahu apa yang Reva butuhkan sekarang? Dari mana Ibu tahu? Tapi deretan pertanyaan itu akhirnya sirna bersama waktu. Reva tak menyangkal jika cerita Ibu itu adalah satu-satunya yang bisa membuat Reva tetap betahan. Menjadi jiwa yang luar biasa. Ketika tubuh ringkih ini rapuh dan mulai terseok gontai.
          Diary... mata Reva terus berdenyut, menimbulkan nyeri yang teramat. Namun Reva sadar masih perlu ruang lebar di hati ini untuk berharap. Tetap memiliki desah napas ini atau keterpaksaan akan memaksa Reva berdmai dengan kebutuhan. Reva begitu sadar ekonomi keluarga memburuk dan pendapatan Bapak yang tak seberapa memaksa Reva merimbaskan harapan untuk operasi.
          Entahlah, Reva tak yakin apakah jantung ini akan memberika sebagaian dari waktunya. Agar Reva dapat bernapas atau tidak. Diary... Reva tahu sebentar lagi Reva tak bisa menatap langit dan mega senja yang indah. Reva juga tak bisa lagi untuk sekedar menyapamu dan menggoreskan ceritaku. Tapi Reva yakin itu bukan suatu kekalahan, karena Reva bisa melihat lebih jelas tentang kekuatan dalam arti sebenarnya.Reva juga tahu Ibu di sana akan bangga melihat Reva kuat menerima semua ini.
          Reva,  siapa pun yang memiliki alasan untuk hidup, maka ia akan sanggup mengatasi persoalan hidup lewat apapun. Pesan Ibu yang selalu Reva inngat. Rev ajuga tak pernah lupa pesan kakek tua dalam cerita Ibu. “Selagi kita bisa, berjalanlah terus, jangan pernah berehenti sebelum kita merasai hari dari usaha kita” . Kecacatan bukan suatu kelemahan , kelengkapan bukan pula suatu kemenangan. Tak bisa menerima segala sesuatu yang diperuntukkan oleh Tuhan untuk kita itulah kemenangan sempurna.
         
*               *                 *

          Walau kau ambil Ibu terlalu cepat, hingga aku tak sempat mendekapnya lebih erat. Namun semua itu cukuplah utnuk menegakkan pendirian yang mulai goyah.Untuk itu Reva ucapkan terima kasih Tuhan untuk semua yang Kau anugerahkan. Aku tak pernah takut akan keberadaan desah napas ini. Jikapun harus pergi , setiadaknya bukan karena aku kalah atau lelah menerima segala yang kau peruntukkan untukku, Tuhan. Tak banyak memang yang Reva mengerti dari garis hidup yang Reva jalani kini. Hanya satu kekuatan itu membuat Reva mampu berjalan hingga kini. Kekuatan sejatinya datang dari keinginan Reva untuk tetap tegar bersama angan yang melambungkan impian untuk sembuh.Reva akan tetap menjadikan keyakinan ini sebagai landasan, bukan hanya sebagai pematri kegundahan hari , namun akan Reva patuhi.

          Diary... setiap orang mempunyai impian, begitupun Reva yang sama seperti mereka. Tapi hingga detik ini tak banyak yang Reva minta pada Tuhan. Hanya Reva inginkan kekuatan untuk bisa menjadi diri sendiri dan bisa menerima segala sesuatu yang telah Tuhan gariskan untuk Reva. Yang bisa Reva terima tanpa keluh kesah dan kecewa. Tanpa harus menjadi pribadi yang asing pada ketidak sempurnaan diri. Diary... Satu hari ini Reva begitu bisa merasakan nikmatnya menerima. Tanpa harus ada kecewa dan keluh kesah yang nyata. Untuk itu Reva ucapkan terima kasih Tuhan, untuk semua yang Kau anugerahkan.

STOP! Being A Junk Food Junkie


Junk food memang kita akui semua orang pasti suka. Selain gampang didapat , cepat penyajiannya, junk food juga murah dan punya khas rasa yang enak di lidah kita. Tapi sayangnya, makanan favorit kita ini ternyata punya lebih banyak sisi negatif dari pada positifnya.


Junk Food Apa Sih???

Junk food adalah makanan yang memiliki nilai gizi rendah . Junk food biasanya mengandung banyak lemak , garam,gula, dan zat-zat tambahan yang pastinya tidak cukup baik untuk tubuh. Junk food disebut-sebut sebagai makanan yang tidak sehat karena kandungannya nya yang sangat kurang, seperti protein, vitamin, dan serat. Jadi bisa dibilang junk food itu adalah makanan dengan rasa enak tetapi mengandung kalori tinggi dan bernilai gizi rendah. Termasuk didalam katagori junk food ialah, burger, mie instan, soft drink, ayam goreng, kentang goreng, dan lain sebagainya.


Kenapa Kita Harus Mengatakan Tidak Pada Junk Food...???

          Junk food mengandung banyak lemak,garam,gula, dan gizi yang sedikit. Jadi tidak ada gunanya untuk kita mengkonsumsi junk food terus menerus. Percuma pula jika kita capek-cape diet kalau masih doyan ngemil, akan memungkinkan berat badan kita akan bertambah gemuk dan tidak sehat. Makan makanan yang bergizi dapat membuat kita merasa lebih baik, selain itu kita juga dapat terlihat lebih segar. Karena Makanan bergizi membuat tubuh lebih sehat. Dan ternyata kelebihan gula dapat menyebabkan mood kita naik turun. Mengkonsumsi junk food yang tinggi lemak dan karbohidrat, serta rendah serat secara berlebihan dapat menyebabkan obesitas, karang gigi dan menimbulkan penyakit jantung dan diabetes. Saat ini banyak sekali anak dan remaja yang kelebihan asupan lemak. Akibatnya tingkat kolesterol mereka meningkat, dan dari sinilah penyakit-penyakit lain dapat bermunculan. Penyakit kolesterol dan penyakit jantung yang dialami anak-anak maupun remaja menuju dewasa kini bulah lagi mitos yang diucapkan, tapi jika pola makan kita tidak benar-benar terjaga maka bisa saja hal itu terjadi.  Maka dari itu jaga pola makan dan hidari junk food sebisa mungkin.


Ganti Junk Food Kita Dengan.....

·        Ganti kentang goreng dengan kentang panggang lengkap dengan kulitnya. Ingat kentang goreng adalah salah satu makanan yang paling jahat kandungannya. Kita bisa membuat ataupun mencari resep-resep baked potato yang sudah banyak variasinya.

·        Ganti ayam goreng dengan ayam rebus. Yang dimaksud ayam goreng disini adalah ayam goreng siap makan (fried chiken) yang biasa kita beli di gerai-gerai, untuk sesekali tidak dilarang, tapi kita bisa ganti dengan misalnya nasi hainan atau sup ayam yang jelas jauh lebih sehat.

·        Ganti hamburger atau hot dog dengan vegetarian pizza. Meski terlihat sehat, ternyata hamburger mengandung lebih dari 1.200 kalori. Kita bisa menggantinya dengan vegetarian pizza.

·        Ganti soft drink dengan susu,jus, atau air mineral

·        Ganti ice cream dengan yoghurt

·        Ganti cake dengan puding buah atau jeli

·        Ganti biskuit dengan roti gandum

·        Ganti mie instan dengan salad

·        Ganti kripik dengan cereal atau kacang


Sesekali boleh kita coba menu-menu pengganti junk food yang sering kita konsumsi dengan rekomendasi yang sudah saya berikan. Selain lebih sehat makanan pengganti junk food tersebut juga tidak kalah enaknya. Mulai lah dari langkah kecil untuk hidup lebih sehat, dengan hidup sehat kita bisa merasakan sendiri manfaatnya.

Minggu, 12 Juni 2016

Hanya Ingin Kau Bangga



Clara masuk ke kamar dan mengambil tasnya. Ia memasukkan hanya satu paket pakaian, seluruh tabungan , uang, dan barang berharganya , tak ketinggalan juga foto mama. Napasnya memburu marah dan kekesalannya memuncak. Ia mengambil semua lembaran piagam penghargaannya dan pergi menemui papa yang masih berteriak-teriak mengatur hidup dan masa depannya.
“Cukup!” Bentak Clara sambil melemparkan piagam-piagamnya. Papa tersentak diam. “aku bukan Dio yang papa bisa atur kehidupannya! Apasih yang papa mau? Aku sudah berusaha untuk jadi sempurna kaya papa, piagam-piagam itu buktinya! Tapi apa? Papa engga pernah ngomong sama aku, bahkan memandangkan aku pun engga! Semua kakak, selalu kakak! Lima tahun pa, sejak mama meninggal. Aku capek, papa terlalu sempurna untuk menjadi seorang Ayah. Aku mau kehidupanku kembali” ujar Carla mengakhiri kekesalannya yang bertumpuk.
“Carla! Kembali!” teriak papa yang hanya dijawab dengan suara langkah kaki Carla yang menjauh.
Carla engga tahan lagi! Engga ada orang yang kuat selalu dipaksa untuk menjadi yang terbaik! Pada awalnya, Carla merasa bisa melakukannya dengan sempurna, tapi sejak Mama meninggal dan karna sikap Papa yang selalu membandingkan dia dengan Dio, kakaknya. Carla engga kuat lagi.
Itulah  Papa! Seorang profesor dan Guru Besar Kriminologi, yang terlalu banyak menuntutnya. Dio mungkin sanggup, tapi Carla engga! Instingnya malah menuntunnya kearah sosial, untuk memberikan perhatian pada anak-anak pinggir jalan yang terlantar. Hal yang sangat sulit untuk diterima Papa. Maka, tak sulit bagi Carla untuk mendapatkan tempat tinggal bersama. Sebuah panti sosial menerimanya dengan terbuka sebagai seorang sukarelawan. Di sini ia mulai menemukan arti hidupnya, bahwa perasaan dibutuhkan oleh orang lain adalah berharga.
Seberharga perasaan bangsa seorang Ayah terhadap putrinya. Perasaan yang tidak pernah didapatkan oleh Carla.
“pulang ya?” bujuk Dio. Siang ini, tepat tiga hari setelah Carla meninggalkan rumah, entah bagaimana Dio berhasil menemukan Carla di pinggir jalan, sedang bercengkerama dengan Siti, salah satu anak panti. Dio langsung menariknya dan membujuk Carla untuk pulang.
“Papa yang nyuruh kakak?” tanya Carla dingin.
Untuk saat ini , dia engga mau berurusan dengan Papa.
           Dio bersender dan menarik dasinya. Eksekutif muda yang sempurna. Ia menghela napas. “Kenapa lagi sih Dik? Engga biasanya elo begini”.
           “Gue capek, Kak. Papa engga pernah puas sama apa yang gue bikin. Gue capek-capek belajar buat jadi juara, terbaik deh. Tapi yang ada, makin gue baik, makin Papa nuntut. Gue Cuma mau Papa bangga dengan apa yang gue bikin. Bahkan, hal sekecil itu Papa engga bisa. Dia engga bisa mentolerir hal kecil yang gue bikin.”
           “Kayak tinggal di pinggir jalan dan berinteraksi dengan anak jalanan?”
           Carla tersenyum miris. “Ternyata elo benar-benar ngewarisin bakat Papa. Iya! Tinggal di pinggir jalan dan berinteraksi dengan anak jalanan. Kalau hal kecil kaya gitu bisa bikin gue ngerasa berharga, akan gue lakukan. Gue engga butuh hal besar hanya untuk bikin Papa bangga. Gue engga mau pulang!” Dio berdiri dan bersiap pergi.
           “Papa sakit,” tiba-tiba Carla menahannya dengan sebuah statement. “Dia minta elo pulang.”Carla berbalik, “Orang sesempurna Papa engga bakal bisa sakit. He is too good to be sick.” Setelah itu, Carla langsung pergi.
          Bukannya Carla engga punya hati. Dia sayang Papa, secara tinggal satu-satunya orangtua yang dia punya. Tapi kenyataan bahwa Papa selalu mengatur hidupnya dan kemungkinan Papa bakal merebutnya dari kebahagiaan ‘kecil’ yang sekarang dia punya meneguhkan hatinya. Papa masih punya Dio, tapi anak-anak itu engga punya siapapun yang bisa mereka ajak berbagi.

*                *                  *

          “Kak Clarla lihat deh!” Dina, seorang anak jalanan yang mencari uang dengan mejadi loper koran mendekati Clara yang sedang mengepang rambut Sarah yang berbau matahari. “Aku dapat berapa hari ini? Lima ribu. Hebat kan, aku kaya!” Dina tertawa bersemangat.
          Clarla tersenyum dan mengambil uang tersebut dari tangan Dina. “Dina” Clara memangku Dina. “Coba hitung deh, uangnya ada tujuh ribu, bukan lima ribu. Kan kemarin sudah diajarin...” Clara mencubit pipi Dina yang berbedak debu jalanan.
          “Hehehe, aku lupa kak! Tujuh ribu ya? Berarti aku lebih kaya dong sekarang?” Tanya Dina lagi. Clara mengangguk. Dina langsung melompat dari pangkuan Clara. “Bunda.. aku kaya sekarang!” Terika Dina kepada seorang ibu yang berusia setengah baya yang mendekati mereka. Ibu Rani, penanggung jawab panti.
          “Hebat dong!” Sambut ibu Rani. “Sekarang kamu mandi ya, sesudah itu tidur siang. Nanti sore kita belajar lagi ya?” Ibu Rani mengelus lembur kepada Dina yang mengangguk patuh sambil tersenyum. Lalu ibu Rani mendekati Carla, “Lagi ngapain kamu Carla?” Tanyanya lembut.
          “Ini, ngepang rambut Sarah, kenapa bu?” Tumben jam segini keluar? Biasanya lagi sibuk  nyiapin cemilan buat anak-anak.” “Iih, sudah hafal saja!” Cubit ibbu Rsni. Carla tertawa lepas. “Car, kamu sudah hampir satu bulan loh disini . Enggak di cariin sama orang rumah?” “Kakak sudah tau kok kalau aku ada di sini. Kenapa? Ibu enggak butuh aku lagi?” “Enggak, bukan begitu. Ibu, dan anak-anak di sini sangat membutuhkan kamu” Tepis ibu Rani. “Cuma kamu kan dari keluarga yang lengkap, apa kamu enggak kangen sama mereka?hmm?”
          Carla terhenti dari kegiatannya. Ia menyenderkan kepala di bahu ibu Rani, yang langsung mengusap rambutnya, persis seperti mama dulu. “Kangen sih, tapi aku enggak yakin kalau orang rumah kangen sama aku”.
          Saat mereka terdiam dalam hening, ibu Rani sudah tau semua masalah Carla, makanya dia mau ngasih Carla tempat tinggal. “Ya sudah, kalau kamu memang betah di sini, ya enggak apa-apa ibu malah seneng ada yang bantuin. Sudah, sekarang kamu siapin Sarah ya, nanti sore ada yang mau ngadopsi dia. Ibu mau lanjut masak lagi deh...” Ibu Rani mencium kening Carla dan perhi ke arah  dapur.
          Ada yang mau ngadopsi Sarah? Pikir Carla. Bukannya Carla enggak senang, dia senang karen itu berarti masa depan Sarah lebih terjamin. Tapi, untuk merek yang tinggal di panti, adopsi belum tentu hal yang menyenangkan. Kenyataan bahwa mereka akan berpisah dengan teman-teman mereka dan kebiasaan jalanan mereka yang lama akan membayangi mereka. Tapi, bagaimanapun juga, semua anak panti berhak mendapatkan ini. Maka Carla menemui Sarah yang sedang asyik main congklak dengan temannya, dan mempersiapkannya

         
*                *                  *

Sekitar pukul lima Sarah sudah siap. Dia sudah bersih, rapi dan wangi. Semua barangnya juga sudah dimasukkan ke dalam tas. Tapi, Sarah enggak mau. Dia enggak mau diadopsi, di mau tetap di panti. Apalagi Dina, adiknya dari tadi menggelayut terus, meraung-raung enggak mau dilepas. Carla kebingungan. Ini gimana caranya Dina bisa tenang, sekaligus Sarah ingin diadopsi? Carla menggendong Dina yang menangis sesenggukkan. “Dina, sudah ya. Nanti Kak Sarah juga bakalan balik kok, jangan nangis lagi ya?” hibur Carla , walau dia tahu dia hanya mengucapkan kebohongan, “Kakak kan sudah bilang, kalau kita sayang sama orang, kita harus bisa ngalah biar orang itu bahagia, ya kan? Sudah dong jangan nangis”
“Itu namanya bukan sayang, Kakak itu namanya bego!” teriak Dina. “Kalau kita sayang sama orang, kita harus pertahanin biar orang itu enggak pergi! Bunda Rani bilang begitu! Pokoknya kak Sarah enggak boleh pergi!”
Carla terdiam.Kepolosan ucapan Dina merefleksikan dirinya. Tapi dia kekeuh. Tugasnya mempersiapkan Sarah untuk diadopso, walaupun itu berarti memisahkan mereka. Carla menggendong Dina yang masih memberontak dan menggandeng Sarah yang hanya ikut sambil menangis. Carla suah pernah pergi dan tempat yang dianggap rumah, jadi dia tau pasti rasa sakitnya.
Di halaman, sebuah Opel Blazzer hitam sudah betengger. Carla menahan Dina sementara ibu Rani dan anak-anak yang lain mengantar Sarah. Seorang laki-laki turun ari mobil dan Dina hampir saja terjatuh kalau dia enggak menjambak rambut Carla buat pegangan.
“Kok aku di lepas sih?!” Ucap Dina. “Kakak?” bisik Carla bingung. Dio turuh dan dengan mobilnya dan menghampiri ibu Rani, dan mengambil alih tangan Sarah. Carla berjalan pelan, masih mengambang, enggak percaya bisa jadi begini, “Ngapain kakak ke sini?” “Mengadopsi adik,” Jawab Dio singkat. “terima kasih ibu Rabi” lanjutnya. “Kakak enggak bisa begini! Kalau kakak mau bawa Sarah , bawa juga adiknya Dina, mereka bersaudara!” teriak Carla kesal.
“Aku turun, aku turun...” rengkal Dina. Carla menurunkan Dina, sementara Dio membuka pintu mobil. Untunglah Dina sudah turun, kalau enggak Dina sudah pasti jatuh karena seluruh otot dan tubuh Carla lemas seketika, ketika Dio mendorong keluar sebuah kursi roda , dengan papa di atasnya!
“Pa-ppa??” lirih Carla. Ia menatap kakaknya, mencari jawaban. “Stroke. I’ve toldyou before” Jawab Dio. Carla berjalan pelan, seakan sudah enggak punya otot kaki lagi. Papa hanya tertunduk di kursi roda , menatapnya. Tangan kirinya seperti terpaku , tapi tangan kanannya terjulur ke arah Carla, seakan ingin memeluknya. Carla sudah enggak sanggup jalan, ia berlutut di pinggir kursi roda papa. Jarak yang cukup untuk mendengar dengan jelas ucapan papa, walau tertatih.
“Carla anak papa. Maafin papa ya sayang. Papa salah, kamu bisa berguna untuk orang lain, itulah yang terpenting dalam hidup. Papa bangga sama kamu, anak papa” Setetes air mata bergulir di pipi Carla. Inilah yang diimpikan dari dulu. Dan papa telah memenuhi impiannya. Dio membantu Cerla berdiri. “Dina juga ikut kita pulang ya?” Dio mengucap tawaran yang sama untuk kedua kalinya. Dan, Carla sadar bahwa tindakannya untuk mengangguk adalah tepat. Betapa bahagianya dia, ketika Dina dan Sarah berebutan masuk mobil dengan gembira, dan setelah berterima kasih dan pamit pada ibu Rani dan anak-anak panti, pelukan papa menyambutnya,

Kembali pulang kerumah... 

Kisah 30 Menit



Suasana Bengawan Solo Coffee sore itu sepi. Hanya ada empat meja yang terisi.Aku meletakan tas diatas meja  bundar dari kayu yang ada dihadapanku dan duduk di sofa berwarna coklat. Pramusaji menghampiri, menanyakan pesananku, tak lama kemudian membawakan sepotong tiramisu dan ice bland brendy cookies yang menjadi favoritku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku menarik sebuah novel dari dalam tas dan membuka halaman yang telah kutandai lalu membacanya.

Jam-jam ini adalah saat-saat yang paling kunikmati. Pulang kantor, jalan-jalam ke toko buku, nunggu Bayu pulang kerja, sambil nongkrong di Bengawan Solo Coffee. Rutinitas ini baru berjalan 3 minggu, berkat promo dari provider yang aku pakai membuatku berani mengeluarkan uang untuk membeli kopi dari gerai yang harganya terbilang lumayan mahal.

Saat aku membalik halaman ke-73 dari novelku, pintu toko terbuka, seorang laki-laki berkacamata frameless masuk, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Lalu ia menemukan apa yang dicarinya dan tersenyum sambil melambaikan tangan. Yang sedikit membuatku terpana adalah karena dia berjalan menuju kesini, ke arahku! . Dengan santai laki-laki itu berjalan ke deretan mejaku dan... menghempaskan dirinya dimeja sebelahku.

Aku menegakkan diri dan memperbaiki posisi duduk. Rasanya agak tidk nyaman kalau ada yang duduk sedekat itu dengan kita. Tapi aku enggak bisa pindah, rasanya enggak sopan sekali. Keduanya kedengaran berbasa-basi lalu mengobrol sedikit dan memanggil peramusaji. Konsentrasiku jadi buyar, enah mengapa halaman ke-73 ini tidak kunjung tuntas. Memang begitulah sifatku, sering mengamati sesuatu yang tidak penting. Aku senang mendengar percakapan orang-orang di sekitarku, entah di toko buku, di cafe ,dan dimanapu.... Aku mencoba beristirhat sebentar, sambil menikmati tiramisu yang tadi kupesan.

“Wah, keren! Kapan-kapan gue main ya ke kantor lo!” aku menoleh sedikit, laki-laki berkacamatatadi yang sedang berbicara.
“Biasa aja kali! Lo gimana, bro? Balik-balik udah S2, hebat....hebat.... Kenapa enggak cari kerjaan disana saja, Di?” tanya temannya tadi.

Si “Di” itu tertawa, “Kangen rumah lah! Enggak betah disana, susah cari makan, biaya hidup tinggi”

“Ah, menuh-menuhin Indonesia saja lo!” seloroh temannya. Mereka terdiam sesaat, waktu pramusaji datang mengantarkan pesanan. Aku tersadar darri kegiatan sia-sia yang baru saja kulakoni. Aku kembali menunduk pada novelku dan berusaha menyelesaikan halaman ke-73.

Satu paragraf, dua paragraf, tiga.....
“Haha, anak kampus gue. Junior.....nanti deh, lo gue kenalin “ kata suara temannya. “Lo gimana? Cewek lo bule ya? Kok enggak dibawa?”
“Ngarang lo, gue enggak punya cewek....” kata si “Di”
“Ah enggak mungkin! Jangan-jangan lo putus sebelum balik!”
“Enggak! Sok tahu lo! Gue disana beneran belajar, enggak ada tuh kepikiran nyari cewek”
“Kata si Farel, cowok-cowok Asia disana laris manis...”
“Yah enggak semuanya kali...”
Mereka tertawa kecil. Percakapan itu kembali menarik perhatianku .Aaaah kenapa sih aku ini?  Entah kenapa kupingku ini senang mendengar suara laki-laki bernama “Di” itu dan temannya. Mendengarkan mereka bercakap-cakap. Kenapa ya?
“Eh...” celetuk si laki-laki itu. “Gimana kabar... dia?
“Dia?” nampak temannya ragu-ragu. “Mm...maksudnya Za....?
Tidak ada jawaban, hanya desahan nafas .
“Apa lo bener-bener putus kontak sama dia?” tanya temannya itu.
“Iya...enam tahun, enggak kerasa ya?” Gumam laki-laki itu.
“Lo masih mikirin dia ya?
Mereka terdiam
“Lo tahu sesuatu tentang dia?” tanya si laki-laki yang berinisial “Di” itu.
“Emm... setau gue dia udah punya cowo sekarang” jawab temannya.
“Hmm..telat ya gue? Segalanya udah berubah sekarang”
“Yaaaa, sayang banget. Padahal kalian cocok loh. Sinar dan Cahaya , arti nama kalian ....”
“Itu emang kesalahan terbesar dalam hidup gue...”
“Kenapa?”
“Karena gue enggak pernah bisa memilih..”

Percakapan berhenti sejenak. Ada merasakan laki-laki tadi akan mulai bercerita, memulai sebuah kisah.
“Semua berawal karena gue tidak sebaik kakak gue. Enggak pinter, enggak rajin... Orang tua gue ,merasa aneh, karena seharusnya gue punya kesamaan dalam gue hal itu sama kakak gue.     Kami sama sama dikasih nasi, dididik dengan cara yang sama... Puncaknya, pas gue gagal dapet beasiswa ke Inggris. Seperti yang lo tau, bokap gue orang yayasan sekolah, katanya gue ini malu-maluin dia banget dengan gagal dapet beasiswa... “terdengar bunyi dentingan gelas dan sendok yang beradu, salah satu dari mereka mengaduk kopinya. “Gue ditekan terus... Enggak boleh main-main, pokoknya gue harus nyamain kakak gue.”
“Buat gue, dia berpengaruh banyak. Dia penyemangat, pemotivasi, dan pengatur mood gue. Kalau gue lihat dia sama cowok lain, atau denger gosip tentang dia, mood gue gampang banget turun. Gue jadi sering bete dan enggak bisa konsen. Ditambah kalau gue lihat kakak gue, selama bertahun-tahun enggak pulang.  Pasti orang tua gue juga pengennya gue begitu, tamatin sekolah dulu, baru pulang. Artinya bakal lama banget gue enggak bisa ketemu dia. Gue makin enggak semangat belajar”
“Hooo.... jadi lo punya dua pilihan? Mau serius sama dia atau ngelupain dia?”
“Akhirnya ngelupain dia adalah jalan yang paling baik, kan?” Soalnya ini menyangkut masa depan, pikir gue. Kalau dia sih,  cukuplah nyakitin perasaan dian, matiin harapan dia tentang gue. Kita sama-sama menjauh. Dan berhasil, gue lebih fokus belajar, dia enggak pernah mampir di ingatan gue. Kecuali di hari kelulusan kita...”
“Yang mana?”
“Waktu dia nyatain persaan dia ke gue... saat dia ngasih sekotak penuh benda-benda tentang gue yang dia simpan.
“Aaahh gue ingat.”
“Gue nyaris batal pergi. Tapi gue juga sadar, kalau semua yang sudah gue capai itu, enggak bisa dibuang gitu saja. Kali terakir gue bicara sama dia saat gue mau masuk ke boarding room, Ngucapin terimakasih dan selamat tinggal”
“Kenapa harus bilang selamat tinggal? Kayak difilm-flm itu... lo janji bakal balik.... long distance love...”
“Gue enggak mau ngasih harapan yang muluk-muluk ke dia. Kita kan enggak pernah tahu kedepannya bakal gimana. Bisa aja gue suka sama cewek lain atau dia ketemu cowok lain.... Tapi saat gue sadar kalau gue salah, lo kira gue enggak berusaha? Liburan dua tahun yang lalu, gue berusaha telepon dia . Tapi di sudah pindah rumah. Gue enggak pernah tahu nomor HP-nya, gue enggak pernah tahu email-nya. Saat itu gue pikir, sudahlah”

           Si teman tidak menyanggah lagi. Keduanya terdiam cukup lama. Aku terdiam, kisah itu membuat mataku kosong, menatapi lantai toko. Teringat akan sesuatu...
“Dan sekarang... lo berubh pikiran? Lo pengen ketemu sama dia?” tanya temannya.
“Hmmm... karena gue bakal menetap disini , gue punya banyak waktu untuk cari dia” jawab laki-laki itu, sambil menyandar pada kursinya.
“Lo masih berharap dia nyimpen perasaan ke lo?” tanya temannya lagi
“Gue enggak mau egois dan merusak tatanan hidup dia yang sekarang. Apakah dia happy , gimana perasaanya ke gue sekarang. Inginnya sih di bahagia sekarang sama cowoknya. Tentang perasaannya ke gue ...harapan itu selalu ada.”
Suara laki-laki itu terasa sangat dekat denganku. Membuat bulu kudukku berdiri.
“Jadi... kalau ketemu, lo mau apa?”
“Berterima kasih ... dan mengembalikan sesuatu... kalung nama ini.”
“Hardi...bahkan nama lo dia ukir...”
Aku tidak melanjutkan kegiatan mengupingku. Karena penggalan akhir percakapan mereka telah menulikanku.
“Hei, kamu baru dateng?” Setelah sekian lama dalam kesunyian, suara Bayu merasuki indera pendengaranku. Ia telah duduk di seberangku sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Dengan wajah tersenyum lebar, membuat suasana jadi riang.
“Kata kamu ada buku bagus ya? Kita ke toko buku sekarang yuk!” Bayu menlanjutkan.

           Namun saat ia melanjutkan ocehanny, pikiranku malah melantur. Kembali ke alam pikirankku sendiri. Sampai akhirnya tangan kanan Bayu melambai-lambai di depan mataku.
“Zahra... kok ngelamun? Kamu enggak apa-apa kan?” Bayu bertanya, sambil tetap tersrnyum. Bersamaan dengan itu, kursi disampingku berderit, saat orang yang menempatinya bergerak cepat.

           Untuk beberapa saat aku kehilangan kontrol tubuhku. Hanya bisa megap-megap, tidak menduga namaku akan terucap. Kubereskan segera barang-barang bawaanku dan kutinggalkan sepotong tiramisu serta seperempat minuman yang belum habis. Lalu berdiri tergesa-gesa, mengabaikan tatapan keheranan yang dilempar Bayu.

           Sambil berdiri, sudut mataku menangkap tatapan terpana dua pasang mata. Dengan nekat aku menoleh pada dua orang tadi. Khususnya pada di sampingku. Yang menghabiskan percakapan 30 menit tentang seorang gadis. Ia speechless dan mematung.

           Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat mata kami bertatapan. Jutaan tanya, berbagai jenis rasa, dan fakta yang ada menggebrakku tiba-tiba. Rasanya ingin menjerit, menjerit pada kebodohanku menguping percakapan orang lain, menjerit pada kedua laki-laki tadi, menjerit pada Bayu yang sudah menyebut namaku.

           Setelah seperkian detik yang tidak tertahankan, aku mengalihkan tatapanku. Kembali menatap kedepan, menghampiri Bayu dan menggandengnya.
“Ayo ... bisikku.”


Aku menyeret Bayu keluar dari sana. Ia menurut saja, walau jelas ia dipenuhi rasa penasaran. Kami menyapa malam yang dingin, membuatku otomatis menggigil. Masih tidak percaya pada ‘kebetulan’ ini. Pada segala hal yang terjadi dalam 30 menit yang baru kulewati. Bahwa aku lah gadis yang dikisahkan tadi.

Kanker Payudara Si Pembunuh Jutaan Perempuan



Tahukah kamu?

Kanker payudara merupakan pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel yang terdapat di payudara (kelenjar susu, saluran susu, syaraf, lemak,dan jaringan ikat). Sel-sel ini tumbuh berkembang dan tidak terkendali, menyerang jaringan sekitar, dan menyebar ke seluruh tubuh. Sel-sel yang terus menerus tumbuh menjadi benjolan disebut dengan tumor. Tapi enggak semua tumor disebut dengan kanker. Tumor yang sifatnya tidak menyebar dan tidak mengancam nyawa disebuit dengan tumor jinak. Sedangkan tumor yang dapat menyebar ke seluruh tubuh atau jaringan di sekitarnya disebut kanker atau tumor ganas.

        Bukan hanya bisa terjadi pada perempuan, kanker payudara pun bisa terjadi pada laki-laki. Tiap tahunnya ada satu persen laki-laki diseluruh dunia yang terkena kanker payudara. Yang membuatnya parah, biasanya tumor pada laki-laki lebih besar dan serius dari pada perempuan. Meskipun membuat kanker payudara pada laki-laki lebih mudah dideteksi. Kanker payudara biasanya diderita oleh laki-laki yang berumur 65 tahun ke atas dan jarang sekali pemuda laki-laki yang terkena penyakit ini.

Gejala Penyakit Kanker Pyudara :

  1.   Ada benjolan di payudara, ketika diraba terasa padat,keras,dan tidak sakit.

   2.   Keluar cairan dari puting susu. Cairan dapat berupa darah atau cairan ini berwarna merah seperti warna air ketika mencuci daging, nanah, cairan encer, atau keluar air susu pada wanita tidak hamil atau menyusui.

   3.   Perubahan bentuk atau besarnya payudara

   4.   Kulit puting susu dan aerola (daerah sekitar puting susu) mengerut atau masuk ke dalam

  5.   Gatal-gatal diputing susu yang lama sembuhnya dan seperti penyakit kulit (eksim)

Penyebab kanker payudara sebenarnya belum bisa dipastikan. Tapi bebrapa hal yang bisa meningkatkan resiko terkena kanker payudara adalah terlalu banyak mengkonsumsi lemak sehingga mengganggu hormon, keluarga ada yang mengidap kanker, merokok dan minum alkohol.

Bagaimana Cara Mencegah Kanker?

    1.   Kurangi makan makanan yang berlemak

    2.   Jauhi rokok dan minuman yang beralkohol

    3.   Makan makanan yang banyak mengaandung serat, seperti roti gandum, jagung, beras, atau bayam.

Ada Beberapa Tahap Kanker Payudara

   1.   Stadium I
Ukuran tumor kurang dari 2cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak.

   2.   Stadium IIA
Tumor kurang dari 2cm tapi disertai penyebaran ke kelenjar getah bening ketiak, tapi belum menyebar ke arah lain.

   3.   Stadium IIB
Tumor berukuran antara 2-5cm  dan ada penyebaran ke kelenjar getah bening ketiak.

   4.   Stadium IIIA
Tumor lebih dari 5cm dan ada penyebaran ke kelenjar getah bening ketiak.

   5.   Stadium IIIB
Tumor yang disertai pelekatan ke kulit atau dinding dada.

   6.   Stadium IV
Tumor dan disertai penyebaran ke tempat lain, seperti paru, tulang dan lainnya.


Harapan kesembuhan pada penderita di stadium II adalah 70%-80% sementara stadium III hanya 40%-60%. Bila sudah mencapai stadium IV, angka kesembuhan hanya 10%. Jadi semakin dini kita mendeteksi tumor di payudara, maka semakin besar kemungkinan untuk bisa disembuhkan. Kedua teman saya pernah mengalami tumor, namun mereka saat itu berada pada stadium II. Sehingga masih sangat mudah untuk diangkat tumor tersebut. Meski demikian mereka disarankan dokter agar tetap menjaga kesehatan, terutama pola makan yang harus benar-benar diperhatikan akan zat-zat yang ada di setiap makanan yang akan dimakan.

Pengalaman dari teman saya sendiri yang membuat saya tergerak untuk berbagi di blog saya ini , mengenai betapa berbahaya kenker payudara. Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat bagi yang membacanya, dan membuat kesadaran pada diri kita untuk lebih menjaga kesehatan , karena sehat mahal harganya. Dan kata-kata itu sangat benar.




PENULISAN MAKALAH ILMIAH


1.      Pengantar
Mahasiswa mengetahu dan memahami penulisan makalah ilmiah
2.      Kompetensi Dasar
Mahasiswa mengetahui penulisan makalah ilmiah
3.      Kemampuan akhir yang diharapkan
3.1.   Mahasiswa memahami penulisan makalah ilmiah
3.2.   Mahasiswa mampu menulis makalah ilmiah
Penulisan makalah ilmiah
Makalah ilmiah adalah kajian atau ulsana ilmiah hasil gagasan sendiri (dalam hal ini di bidang pendidikan, pengajaran, bimbingan penyuluhan, bidang pendidikan, pengajaran, bimbingan penyuluhan, bidang kependidikan lainya) yang disajikan dalam bentuk tulisan.
Sistematika penulisan
1.      Pendahuluan
Pendahuluan merupakan bagian yang mengantar pembaca kepada urauan isi makalah sehingga memahami isi, maksud, dan tujuan makalah yang ditulis.
2.      Pembahasan masalah
Pada bagian pembahasan masalah diuraikan dan dibahas secara sitematis berbagai alternative permasalahan.
3.      Kesimpulan dan saran
Kesimpulan merupakan sistesis dari semua alternative jawaban yang telah dibahas atau generalisasi dari semua alternative jawaban (Nana Sudjana dan H. Ulung Laksmana, 2001:48)
4.      Penutup
Penutup merupakan bagian akhir dalam penulisan makalah ilmiah.Penutup makalah berisikan daftar pustaka yang dijadikan bahan acuan penulisan.
Langkah-langkah dasar penyusunan makalah ilmiah
Langkah-langkah dasar membuat makalah ilmiah, yaitu menentukan tema, dan permasalahan yang akan ditulis, menyiapkan referensi, dan memahami susunan penyusunan makalah.

PROPOSAL DAN LAPORAN
Pengantar
Mahasiswa diharapkan mampu membuat proposal serta laporan.
Kompetensi dasar
1.      Mahasiswa mengetahui proposal
2.      Mahasiswa mengetahui laporan
Kemampuan akhir yang diharapkan
1.      Mahasiswa mampu menjelaskan bagian-bagian suatu proposal
2.      Mahasiswa mampu membuat proposal
3.      Mahasiswa mampu menjelaskan bagian-bagian suatu laporan
4.      Mahasiswa mampu membuat laporan
Materi belajar
1.      Proposal
a.      Pengertian proposal
Proposal adalah karangan ilmiah yang berisi rancangan kerja (widjono Hs, 2012: 307).Proposal disusun sistematis dan terinci untuk suatu kegiatan formal. Untuk itulah, agar suatu rencana dapat berjalan dengan baik dibuatlah proposal dengan memperhatikan beberapa hal, yaitu kemampuan, kondisi, tanggung jawab, orientasi, dan kerja sama
b.      Jenis jenis proposal
                                                              i.      Ditinjau dari isinya, yaitu proposal sederhana dan proposal kompleks
                                                            ii.      Ditinjau dari jenis kegiatanya, yaitu proposal kerja sama, penelitian, pendirian rumah sakit, seminar, pengadaan, dan sebagainya
c.       Penyusun proposal
                                                              i.      Proposal sederhana terdiri dari nama kegiatan, dasar pemikiran, tujuan dan manfaat, ruang lingkup, waktu dan tempat kegiatan, penyelenggara atau panitia, anggaran atau biaya.
                                                            ii.      Proposal penelitian terdiri dari 1, Judul kegiatan. 2, latar belakang. 3, tujuan penelitian. 4, tinjauan pustaka. 5, landasan teori. 6, hipotesis. 7, metode penelitian. 8, jadwal kegiatan. Dan 9, daftar pustaka (307-308)
2.      Laporan
Pengertian laporan
Laporan adalah suatu bahan infirmasi yang diperoleh dari hasil pengolahan data atau hasil suatu penelitian, penyelidikan, atau riset terhadap suatu masalah (Ignatius Wursanto, 2006:288)

Macam-macam laporan
·         Menurut isinya ada beberapa macam laporan, misalnya laporan bidang personalia, laporan bidang keuangan.
·         Menurut luas sempitnya, laporan terdiri dari laporan khusus dan laporan umum
·         Menurut tujuanya, laporan terdiri dari laporan pertanggungjawaban, dan laporan kebijaksanaan
·         Dari segi waktum terdaoat dua macam, yaitu laporan rutin, dan laporan incidental
·         Dari segi keresmianya, terdapat dua macam laporan, yaitu laporan informal dan laporan formal
·         Menurut jenis kegiatanya, laporan dibedakan menjadi laporan penelitian serta laporan administrasi dan manajemen
·         Menurut bentuknya, laporan dibedakan menjadi laporan dalam bentuk memo atau nota, laporan dalam bentuk surat, laporan dalam memograf, laporan dalam bentuk buku, dan laporan dalam bentuk matriks.

Bagian-bagian laporan
            Bagian bagian laporan terdiri dari pendahuluan, isi, analisis, dan penutup.
·         Bagian pendahuluan terdiri dari rumusan permasalahan, kerangka acuan yang berisi latar belakang, rumusan ruang lingkup laporan dan pendekatan atau metode yang dipakai dalam laporan
·         Isi laporan berisikan pelaksanaan suatu kegiatan, tujuan yang telah dicapai, kendala yang dihadapi, usulan perbaikan, dan menyampaikan penemuan baru (Bila ada)
·         Analisis berisi kesimpulan baik-buruknya, berhasil tidaknya, maju mundur atau gabungan dari hal-hal tersebut.

·         Penutup merupakan bagian akhir dari suatu laporan yang tidak mengandung analisis.



Daftar Pustaka : Isbandi, Fitri.S ,dkk.2015.Dasar-dasar Penulisan.Tangerang.FUN Institute dan Universitas Muhammadiyah Tangerang.