Minggu, 12 Juni 2016

Kisah 30 Menit



Suasana Bengawan Solo Coffee sore itu sepi. Hanya ada empat meja yang terisi.Aku meletakan tas diatas meja  bundar dari kayu yang ada dihadapanku dan duduk di sofa berwarna coklat. Pramusaji menghampiri, menanyakan pesananku, tak lama kemudian membawakan sepotong tiramisu dan ice bland brendy cookies yang menjadi favoritku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku menarik sebuah novel dari dalam tas dan membuka halaman yang telah kutandai lalu membacanya.

Jam-jam ini adalah saat-saat yang paling kunikmati. Pulang kantor, jalan-jalam ke toko buku, nunggu Bayu pulang kerja, sambil nongkrong di Bengawan Solo Coffee. Rutinitas ini baru berjalan 3 minggu, berkat promo dari provider yang aku pakai membuatku berani mengeluarkan uang untuk membeli kopi dari gerai yang harganya terbilang lumayan mahal.

Saat aku membalik halaman ke-73 dari novelku, pintu toko terbuka, seorang laki-laki berkacamata frameless masuk, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Lalu ia menemukan apa yang dicarinya dan tersenyum sambil melambaikan tangan. Yang sedikit membuatku terpana adalah karena dia berjalan menuju kesini, ke arahku! . Dengan santai laki-laki itu berjalan ke deretan mejaku dan... menghempaskan dirinya dimeja sebelahku.

Aku menegakkan diri dan memperbaiki posisi duduk. Rasanya agak tidk nyaman kalau ada yang duduk sedekat itu dengan kita. Tapi aku enggak bisa pindah, rasanya enggak sopan sekali. Keduanya kedengaran berbasa-basi lalu mengobrol sedikit dan memanggil peramusaji. Konsentrasiku jadi buyar, enah mengapa halaman ke-73 ini tidak kunjung tuntas. Memang begitulah sifatku, sering mengamati sesuatu yang tidak penting. Aku senang mendengar percakapan orang-orang di sekitarku, entah di toko buku, di cafe ,dan dimanapu.... Aku mencoba beristirhat sebentar, sambil menikmati tiramisu yang tadi kupesan.

“Wah, keren! Kapan-kapan gue main ya ke kantor lo!” aku menoleh sedikit, laki-laki berkacamatatadi yang sedang berbicara.
“Biasa aja kali! Lo gimana, bro? Balik-balik udah S2, hebat....hebat.... Kenapa enggak cari kerjaan disana saja, Di?” tanya temannya tadi.

Si “Di” itu tertawa, “Kangen rumah lah! Enggak betah disana, susah cari makan, biaya hidup tinggi”

“Ah, menuh-menuhin Indonesia saja lo!” seloroh temannya. Mereka terdiam sesaat, waktu pramusaji datang mengantarkan pesanan. Aku tersadar darri kegiatan sia-sia yang baru saja kulakoni. Aku kembali menunduk pada novelku dan berusaha menyelesaikan halaman ke-73.

Satu paragraf, dua paragraf, tiga.....
“Haha, anak kampus gue. Junior.....nanti deh, lo gue kenalin “ kata suara temannya. “Lo gimana? Cewek lo bule ya? Kok enggak dibawa?”
“Ngarang lo, gue enggak punya cewek....” kata si “Di”
“Ah enggak mungkin! Jangan-jangan lo putus sebelum balik!”
“Enggak! Sok tahu lo! Gue disana beneran belajar, enggak ada tuh kepikiran nyari cewek”
“Kata si Farel, cowok-cowok Asia disana laris manis...”
“Yah enggak semuanya kali...”
Mereka tertawa kecil. Percakapan itu kembali menarik perhatianku .Aaaah kenapa sih aku ini?  Entah kenapa kupingku ini senang mendengar suara laki-laki bernama “Di” itu dan temannya. Mendengarkan mereka bercakap-cakap. Kenapa ya?
“Eh...” celetuk si laki-laki itu. “Gimana kabar... dia?
“Dia?” nampak temannya ragu-ragu. “Mm...maksudnya Za....?
Tidak ada jawaban, hanya desahan nafas .
“Apa lo bener-bener putus kontak sama dia?” tanya temannya itu.
“Iya...enam tahun, enggak kerasa ya?” Gumam laki-laki itu.
“Lo masih mikirin dia ya?
Mereka terdiam
“Lo tahu sesuatu tentang dia?” tanya si laki-laki yang berinisial “Di” itu.
“Emm... setau gue dia udah punya cowo sekarang” jawab temannya.
“Hmm..telat ya gue? Segalanya udah berubah sekarang”
“Yaaaa, sayang banget. Padahal kalian cocok loh. Sinar dan Cahaya , arti nama kalian ....”
“Itu emang kesalahan terbesar dalam hidup gue...”
“Kenapa?”
“Karena gue enggak pernah bisa memilih..”

Percakapan berhenti sejenak. Ada merasakan laki-laki tadi akan mulai bercerita, memulai sebuah kisah.
“Semua berawal karena gue tidak sebaik kakak gue. Enggak pinter, enggak rajin... Orang tua gue ,merasa aneh, karena seharusnya gue punya kesamaan dalam gue hal itu sama kakak gue.     Kami sama sama dikasih nasi, dididik dengan cara yang sama... Puncaknya, pas gue gagal dapet beasiswa ke Inggris. Seperti yang lo tau, bokap gue orang yayasan sekolah, katanya gue ini malu-maluin dia banget dengan gagal dapet beasiswa... “terdengar bunyi dentingan gelas dan sendok yang beradu, salah satu dari mereka mengaduk kopinya. “Gue ditekan terus... Enggak boleh main-main, pokoknya gue harus nyamain kakak gue.”
“Buat gue, dia berpengaruh banyak. Dia penyemangat, pemotivasi, dan pengatur mood gue. Kalau gue lihat dia sama cowok lain, atau denger gosip tentang dia, mood gue gampang banget turun. Gue jadi sering bete dan enggak bisa konsen. Ditambah kalau gue lihat kakak gue, selama bertahun-tahun enggak pulang.  Pasti orang tua gue juga pengennya gue begitu, tamatin sekolah dulu, baru pulang. Artinya bakal lama banget gue enggak bisa ketemu dia. Gue makin enggak semangat belajar”
“Hooo.... jadi lo punya dua pilihan? Mau serius sama dia atau ngelupain dia?”
“Akhirnya ngelupain dia adalah jalan yang paling baik, kan?” Soalnya ini menyangkut masa depan, pikir gue. Kalau dia sih,  cukuplah nyakitin perasaan dian, matiin harapan dia tentang gue. Kita sama-sama menjauh. Dan berhasil, gue lebih fokus belajar, dia enggak pernah mampir di ingatan gue. Kecuali di hari kelulusan kita...”
“Yang mana?”
“Waktu dia nyatain persaan dia ke gue... saat dia ngasih sekotak penuh benda-benda tentang gue yang dia simpan.
“Aaahh gue ingat.”
“Gue nyaris batal pergi. Tapi gue juga sadar, kalau semua yang sudah gue capai itu, enggak bisa dibuang gitu saja. Kali terakir gue bicara sama dia saat gue mau masuk ke boarding room, Ngucapin terimakasih dan selamat tinggal”
“Kenapa harus bilang selamat tinggal? Kayak difilm-flm itu... lo janji bakal balik.... long distance love...”
“Gue enggak mau ngasih harapan yang muluk-muluk ke dia. Kita kan enggak pernah tahu kedepannya bakal gimana. Bisa aja gue suka sama cewek lain atau dia ketemu cowok lain.... Tapi saat gue sadar kalau gue salah, lo kira gue enggak berusaha? Liburan dua tahun yang lalu, gue berusaha telepon dia . Tapi di sudah pindah rumah. Gue enggak pernah tahu nomor HP-nya, gue enggak pernah tahu email-nya. Saat itu gue pikir, sudahlah”

           Si teman tidak menyanggah lagi. Keduanya terdiam cukup lama. Aku terdiam, kisah itu membuat mataku kosong, menatapi lantai toko. Teringat akan sesuatu...
“Dan sekarang... lo berubh pikiran? Lo pengen ketemu sama dia?” tanya temannya.
“Hmmm... karena gue bakal menetap disini , gue punya banyak waktu untuk cari dia” jawab laki-laki itu, sambil menyandar pada kursinya.
“Lo masih berharap dia nyimpen perasaan ke lo?” tanya temannya lagi
“Gue enggak mau egois dan merusak tatanan hidup dia yang sekarang. Apakah dia happy , gimana perasaanya ke gue sekarang. Inginnya sih di bahagia sekarang sama cowoknya. Tentang perasaannya ke gue ...harapan itu selalu ada.”
Suara laki-laki itu terasa sangat dekat denganku. Membuat bulu kudukku berdiri.
“Jadi... kalau ketemu, lo mau apa?”
“Berterima kasih ... dan mengembalikan sesuatu... kalung nama ini.”
“Hardi...bahkan nama lo dia ukir...”
Aku tidak melanjutkan kegiatan mengupingku. Karena penggalan akhir percakapan mereka telah menulikanku.
“Hei, kamu baru dateng?” Setelah sekian lama dalam kesunyian, suara Bayu merasuki indera pendengaranku. Ia telah duduk di seberangku sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Dengan wajah tersenyum lebar, membuat suasana jadi riang.
“Kata kamu ada buku bagus ya? Kita ke toko buku sekarang yuk!” Bayu menlanjutkan.

           Namun saat ia melanjutkan ocehanny, pikiranku malah melantur. Kembali ke alam pikirankku sendiri. Sampai akhirnya tangan kanan Bayu melambai-lambai di depan mataku.
“Zahra... kok ngelamun? Kamu enggak apa-apa kan?” Bayu bertanya, sambil tetap tersrnyum. Bersamaan dengan itu, kursi disampingku berderit, saat orang yang menempatinya bergerak cepat.

           Untuk beberapa saat aku kehilangan kontrol tubuhku. Hanya bisa megap-megap, tidak menduga namaku akan terucap. Kubereskan segera barang-barang bawaanku dan kutinggalkan sepotong tiramisu serta seperempat minuman yang belum habis. Lalu berdiri tergesa-gesa, mengabaikan tatapan keheranan yang dilempar Bayu.

           Sambil berdiri, sudut mataku menangkap tatapan terpana dua pasang mata. Dengan nekat aku menoleh pada dua orang tadi. Khususnya pada di sampingku. Yang menghabiskan percakapan 30 menit tentang seorang gadis. Ia speechless dan mematung.

           Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat mata kami bertatapan. Jutaan tanya, berbagai jenis rasa, dan fakta yang ada menggebrakku tiba-tiba. Rasanya ingin menjerit, menjerit pada kebodohanku menguping percakapan orang lain, menjerit pada kedua laki-laki tadi, menjerit pada Bayu yang sudah menyebut namaku.

           Setelah seperkian detik yang tidak tertahankan, aku mengalihkan tatapanku. Kembali menatap kedepan, menghampiri Bayu dan menggandengnya.
“Ayo ... bisikku.”


Aku menyeret Bayu keluar dari sana. Ia menurut saja, walau jelas ia dipenuhi rasa penasaran. Kami menyapa malam yang dingin, membuatku otomatis menggigil. Masih tidak percaya pada ‘kebetulan’ ini. Pada segala hal yang terjadi dalam 30 menit yang baru kulewati. Bahwa aku lah gadis yang dikisahkan tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar