Suasana Bengawan Solo Coffee sore itu sepi. Hanya ada
empat meja yang terisi.Aku meletakan tas diatas meja bundar dari kayu yang ada dihadapanku dan
duduk di sofa berwarna coklat. Pramusaji menghampiri, menanyakan pesananku, tak
lama kemudian membawakan sepotong tiramisu dan ice bland brendy cookies yang
menjadi favoritku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku menarik sebuah novel
dari dalam tas dan membuka halaman yang telah kutandai lalu membacanya.
Jam-jam ini adalah saat-saat yang paling kunikmati.
Pulang kantor, jalan-jalam ke toko buku, nunggu Bayu pulang kerja, sambil
nongkrong di Bengawan Solo Coffee. Rutinitas ini baru berjalan 3 minggu, berkat
promo dari provider yang aku pakai membuatku berani mengeluarkan uang untuk
membeli kopi dari gerai yang harganya terbilang lumayan mahal.
Saat aku membalik halaman ke-73 dari novelku, pintu toko
terbuka, seorang laki-laki berkacamata frameless masuk, ia mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Lalu ia menemukan apa yang dicarinya
dan tersenyum sambil melambaikan tangan. Yang sedikit membuatku terpana adalah
karena dia berjalan menuju kesini, ke arahku! . Dengan santai laki-laki itu
berjalan ke deretan mejaku dan... menghempaskan dirinya dimeja sebelahku.
Aku menegakkan diri dan memperbaiki posisi duduk. Rasanya
agak tidk nyaman kalau ada yang duduk sedekat itu dengan kita. Tapi aku enggak
bisa pindah, rasanya enggak sopan sekali. Keduanya kedengaran berbasa-basi lalu
mengobrol sedikit dan memanggil peramusaji. Konsentrasiku jadi buyar, enah
mengapa halaman ke-73 ini tidak kunjung tuntas. Memang begitulah sifatku,
sering mengamati sesuatu yang tidak penting. Aku senang mendengar percakapan
orang-orang di sekitarku, entah di toko buku, di cafe ,dan dimanapu.... Aku
mencoba beristirhat sebentar, sambil menikmati tiramisu yang tadi kupesan.
“Wah, keren! Kapan-kapan gue main ya ke kantor lo!” aku
menoleh sedikit, laki-laki berkacamatatadi yang sedang berbicara.
“Biasa aja kali! Lo gimana, bro? Balik-balik udah S2,
hebat....hebat.... Kenapa enggak cari kerjaan disana saja, Di?” tanya temannya
tadi.
Si “Di” itu tertawa, “Kangen rumah lah! Enggak betah
disana, susah cari makan, biaya hidup tinggi”
“Ah, menuh-menuhin Indonesia saja lo!” seloroh temannya.
Mereka terdiam sesaat, waktu pramusaji datang mengantarkan pesanan. Aku
tersadar darri kegiatan sia-sia yang baru saja kulakoni. Aku kembali menunduk
pada novelku dan berusaha menyelesaikan halaman ke-73.
Satu paragraf, dua paragraf, tiga.....
“Haha, anak kampus gue. Junior.....nanti deh, lo gue
kenalin “ kata suara temannya. “Lo gimana? Cewek lo bule ya? Kok enggak
dibawa?”
“Ngarang lo, gue enggak punya cewek....” kata si “Di”
“Ah enggak mungkin! Jangan-jangan lo putus sebelum
balik!”
“Enggak! Sok tahu lo! Gue disana beneran belajar, enggak
ada tuh kepikiran nyari cewek”
“Kata si Farel, cowok-cowok Asia disana laris manis...”
“Yah enggak semuanya kali...”
Mereka tertawa kecil. Percakapan itu kembali menarik
perhatianku .Aaaah kenapa sih aku ini?
Entah kenapa kupingku ini senang mendengar suara laki-laki bernama “Di”
itu dan temannya. Mendengarkan mereka bercakap-cakap. Kenapa ya?
“Eh...” celetuk si laki-laki itu. “Gimana kabar... dia?
“Dia?” nampak temannya ragu-ragu. “Mm...maksudnya Za....?
Tidak ada jawaban, hanya desahan nafas .
“Apa lo bener-bener putus kontak sama dia?” tanya
temannya itu.
“Iya...enam tahun, enggak kerasa ya?” Gumam laki-laki
itu.
“Lo masih mikirin dia ya?
Mereka terdiam
“Lo tahu sesuatu tentang dia?” tanya si laki-laki yang
berinisial “Di” itu.
“Emm... setau gue dia udah punya cowo sekarang” jawab
temannya.
“Hmm..telat ya gue? Segalanya udah berubah sekarang”
“Yaaaa, sayang banget. Padahal kalian cocok loh. Sinar
dan Cahaya , arti nama kalian ....”
“Itu emang kesalahan terbesar dalam hidup gue...”
“Kenapa?”
“Karena gue enggak pernah bisa memilih..”
Percakapan berhenti sejenak. Ada merasakan laki-laki tadi
akan mulai bercerita, memulai sebuah kisah.
“Semua berawal karena gue tidak sebaik kakak gue. Enggak
pinter, enggak rajin... Orang tua gue ,merasa aneh, karena seharusnya gue punya
kesamaan dalam gue hal itu sama kakak gue. Kami
sama sama dikasih nasi, dididik dengan cara yang sama... Puncaknya, pas gue
gagal dapet beasiswa ke Inggris. Seperti yang lo tau, bokap gue orang yayasan
sekolah, katanya gue ini malu-maluin dia banget dengan gagal dapet beasiswa...
“terdengar bunyi dentingan gelas dan sendok yang beradu, salah satu dari mereka
mengaduk kopinya. “Gue ditekan terus... Enggak boleh main-main, pokoknya gue
harus nyamain kakak gue.”
“Buat gue, dia berpengaruh banyak. Dia penyemangat,
pemotivasi, dan pengatur mood gue. Kalau gue lihat dia sama cowok lain, atau
denger gosip tentang dia, mood gue gampang banget turun. Gue jadi sering bete
dan enggak bisa konsen. Ditambah kalau gue lihat kakak gue, selama
bertahun-tahun enggak pulang. Pasti
orang tua gue juga pengennya gue begitu, tamatin sekolah dulu, baru pulang.
Artinya bakal lama banget gue enggak bisa ketemu dia. Gue makin enggak semangat
belajar”
“Hooo.... jadi lo punya dua pilihan? Mau serius sama dia
atau ngelupain dia?”
“Akhirnya ngelupain dia adalah jalan yang paling baik,
kan?” Soalnya ini menyangkut masa depan, pikir gue. Kalau dia sih, cukuplah nyakitin perasaan dian, matiin
harapan dia tentang gue. Kita sama-sama menjauh. Dan berhasil, gue lebih fokus
belajar, dia enggak pernah mampir di ingatan gue. Kecuali di hari kelulusan
kita...”
“Yang mana?”
“Waktu dia nyatain persaan dia ke gue... saat dia ngasih
sekotak penuh benda-benda tentang gue yang dia simpan.
“Aaahh gue ingat.”
“Gue nyaris batal pergi. Tapi gue juga sadar, kalau semua
yang sudah gue capai itu, enggak bisa dibuang gitu saja. Kali terakir gue
bicara sama dia saat gue mau masuk ke boarding room, Ngucapin terimakasih dan
selamat tinggal”
“Kenapa harus bilang selamat tinggal? Kayak difilm-flm
itu... lo janji bakal balik.... long distance love...”
“Gue enggak mau ngasih harapan yang muluk-muluk ke dia.
Kita kan enggak pernah tahu kedepannya bakal gimana. Bisa aja gue suka sama
cewek lain atau dia ketemu cowok lain.... Tapi saat gue sadar kalau gue salah,
lo kira gue enggak berusaha? Liburan dua tahun yang lalu, gue berusaha telepon
dia . Tapi di sudah pindah rumah. Gue enggak pernah tahu nomor HP-nya, gue
enggak pernah tahu email-nya. Saat itu gue pikir, sudahlah”
Si teman
tidak menyanggah lagi. Keduanya terdiam cukup lama. Aku terdiam, kisah itu
membuat mataku kosong, menatapi lantai toko. Teringat akan sesuatu...
“Dan sekarang... lo berubh pikiran? Lo pengen ketemu sama
dia?” tanya temannya.
“Hmmm... karena gue bakal menetap disini , gue punya
banyak waktu untuk cari dia” jawab laki-laki itu, sambil menyandar pada
kursinya.
“Lo masih berharap dia nyimpen perasaan ke lo?” tanya
temannya lagi
“Gue enggak mau egois dan merusak tatanan hidup dia yang
sekarang. Apakah dia happy , gimana perasaanya ke gue sekarang. Inginnya sih di
bahagia sekarang sama cowoknya. Tentang perasaannya ke gue ...harapan itu
selalu ada.”
Suara laki-laki itu terasa sangat dekat denganku. Membuat
bulu kudukku berdiri.
“Jadi... kalau ketemu, lo mau apa?”
“Berterima kasih ... dan mengembalikan sesuatu... kalung
nama ini.”
“Hardi...bahkan nama lo dia ukir...”
Aku tidak melanjutkan kegiatan mengupingku. Karena
penggalan akhir percakapan mereka telah menulikanku.
“Hei, kamu baru dateng?” Setelah sekian lama dalam
kesunyian, suara Bayu merasuki indera pendengaranku. Ia telah duduk di
seberangku sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Dengan wajah tersenyum
lebar, membuat suasana jadi riang.
“Kata kamu ada buku bagus ya? Kita ke toko buku sekarang
yuk!” Bayu menlanjutkan.
Namun saat
ia melanjutkan ocehanny, pikiranku malah melantur. Kembali ke alam pikirankku
sendiri. Sampai akhirnya tangan kanan Bayu melambai-lambai di depan mataku.
“Zahra... kok ngelamun? Kamu enggak apa-apa kan?” Bayu
bertanya, sambil tetap tersrnyum. Bersamaan dengan itu, kursi disampingku
berderit, saat orang yang menempatinya bergerak cepat.
Untuk
beberapa saat aku kehilangan kontrol tubuhku. Hanya bisa megap-megap, tidak
menduga namaku akan terucap. Kubereskan segera barang-barang bawaanku dan
kutinggalkan sepotong tiramisu serta seperempat minuman yang belum habis. Lalu
berdiri tergesa-gesa, mengabaikan tatapan keheranan yang dilempar Bayu.
Sambil
berdiri, sudut mataku menangkap tatapan terpana dua pasang mata. Dengan nekat
aku menoleh pada dua orang tadi. Khususnya pada di sampingku. Yang menghabiskan
percakapan 30 menit tentang seorang gadis. Ia speechless dan mematung.
Aku tidak
bisa berbuat apa-apa saat mata kami bertatapan. Jutaan tanya, berbagai jenis
rasa, dan fakta yang ada menggebrakku tiba-tiba. Rasanya ingin menjerit,
menjerit pada kebodohanku menguping percakapan orang lain, menjerit pada kedua
laki-laki tadi, menjerit pada Bayu yang sudah menyebut namaku.
Setelah
seperkian detik yang tidak tertahankan, aku mengalihkan tatapanku. Kembali menatap
kedepan, menghampiri Bayu dan menggandengnya.
“Ayo ... bisikku.”
Aku menyeret Bayu keluar dari sana. Ia menurut saja,
walau jelas ia dipenuhi rasa penasaran. Kami menyapa malam yang dingin,
membuatku otomatis menggigil. Masih tidak percaya pada ‘kebetulan’ ini. Pada
segala hal yang terjadi dalam 30 menit yang baru kulewati. Bahwa aku lah gadis
yang dikisahkan tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar