Pagi hari ditengah ruangan
ini adalah kesunyian yang tetap terasa purba. Sunyi senyap yag selalu membuatku
merasa terpencil dan asing. Ibarat angain yang menggoyangkan cemara senja. Aku
sudah terlalu hapal. Tapi tidak dengannya. Seorang tua yang selalu duduk
tersudut dibawah cemara, hingga kelam dan pekat menjadi sahabat. Suatu saat
ketika anda sengaja berkunjung ke rumahnya. Akan anda temui dia dengan segala
kesederhanaannya. Ketika anda membuka pintu, ruang denga sepasang kursi dan
meja tamu sederhana akan segera menyapa anda. Juga seulas senyum manis berbingkai
kayu yang tak kalah ramahnya, akan menggerakkan otot motorik mulut anda untuk
membentuk seulas senyum.
Setelah berjalan beberapa
langkah saja ke arah kiri akan anda temui satu tempat tidur kecil dan kasur keras
yang setiamenemani lelaki itu menyelami usia senjanya. Tak nampak sedikitpun
rasa enggan ataupun bosan. Meski bisa kia lihat kerapuhan mulai bertahta di
sana. Memang sejauh ini tak ada yang istimewa! Tapi mari kita menuju satu
ruangan terakhir rumah ini. Nampak jelas puluhan kerajinan rotan yang berjejer
rapi yang usianya tak kalah tua dengan pemiliknya.
Lima tahun yang lalu
jari-jari lincah yang cekatan itu menyulap puluhan gulungan rotan itu menjadi
benda yang unik dan menarik. Hingga aku pun tak pernah bisa memilikinya. Harganya
memang tak seberapa bagiku. Tapi, baginya logam-logam itu adalah cucuran
keringatnya dan akan segera mengisi perut kosong itu dengan sepiring nasi. Aku
bisa memanggilnya kakek.
Tak pernah terlintas
sedikitpun dibenakku saat itu. Kenapa ia begitu kuat? Berjuang tanpa keluarga
dan kerabatnya di usianya yang senja ini. Terkadang ikut menetes pula air
mataku. Ketika pada suatu kesempatan aku melihatnya menawarkan aneka kerajinan,
digerbang sekolah seusai pelajaran. Tetapi anak-anak berseragam putih abu yang
seharusnya lebih bermoral itu justru tak sedikitpun memperhatikannya.
Ketika seorang siswi yang
berdandan ala model dengan sengaja menyenggolnya hingga barang itu jatuh
berantakan. Justru ia memarahi kakek malang itu. Aku merasa sangat terhina
dengan kelakuannya, Kuhampiri kakek itu dan segera mengajaknya pergi. Dengan
susah payah ia menyeret satu kakinya untuk mengimbangiku. Aku merasakan
cemoohan dan gunjingan mengantar kepergian kami. Tapi toh, aku enggak peduli.
Mungkin mereka pikir seorang ynag cacat tak pantas bergaul dengan mereka,
karena hanya menjadi hal yang pantas dipermalukan.
* * *
Suatu siang aku berkunjung
kerumah kakek . Ia bercerita tentang sanak keluarga yang mengasingkannya karena
kecacatan dan kemiskinan yang begitu bersahabat dengannya. Ia juga bercerita
tentang perjuangannya untuk menjaga sehelai nyawa agar tetap tegak ditempatnya.
Tak sedikitpun kesedihan merajai angannya. Ia tersenyum dan memperlihatkan
gusinya yang mulai ompong. Aku pun tertawa . “Nak ,selagi kita bisa,
berjalanlah terus dan jangan pernah berhenti sebelum kita merasai hasi dari usaha
yang kita lakukan. Kecacatan bukanlah kekalahan, kelengkapan bukan pula suatu
kemenangan. Tapi bisa menerima keadaan apapun yang diperuntukkan oleh Tuhan
untuk kita. Itulah kemenangan yang sempurna”.
Satu pesan yang terpatri
selalu di relung hatiku. Sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi. Aku tahu
dia sudah sampai ke tempat yang tertinggi. Higga tak seorangpun bisa
menggapainya. Diary... Itu cerita pengantar tidur yang pernah mendiang Ibu
ceritakan kepada Reva. Dua tahun silam, sekaligus menjadi dongeng wasiat
darinya karena tak lama setela itu Ibu meninggal.
Terkadang di benakku merasa
heran. Kenapa seakan Ibu begitu tahu apa yang Reva butuhkan sekarang? Dari mana
Ibu tahu? Tapi deretan pertanyaan itu akhirnya sirna bersama waktu. Reva tak
menyangkal jika cerita Ibu itu adalah satu-satunya yang bisa membuat Reva tetap
betahan. Menjadi jiwa yang luar biasa. Ketika tubuh ringkih ini rapuh dan mulai
terseok gontai.
Diary... mata Reva terus
berdenyut, menimbulkan nyeri yang teramat. Namun Reva sadar masih perlu ruang
lebar di hati ini untuk berharap. Tetap memiliki desah napas ini atau
keterpaksaan akan memaksa Reva berdmai dengan kebutuhan. Reva begitu sadar
ekonomi keluarga memburuk dan pendapatan Bapak yang tak seberapa memaksa Reva
merimbaskan harapan untuk operasi.
Entahlah, Reva tak yakin
apakah jantung ini akan memberika sebagaian dari waktunya. Agar Reva dapat
bernapas atau tidak. Diary... Reva tahu sebentar lagi Reva tak bisa menatap
langit dan mega senja yang indah. Reva juga tak bisa lagi untuk sekedar
menyapamu dan menggoreskan ceritaku. Tapi Reva yakin itu bukan suatu kekalahan,
karena Reva bisa melihat lebih jelas tentang kekuatan dalam arti sebenarnya.Reva
juga tahu Ibu di sana akan bangga melihat Reva kuat menerima semua ini.
Reva, siapa pun yang memiliki alasan untuk hidup,
maka ia akan sanggup mengatasi persoalan hidup lewat apapun. Pesan Ibu yang
selalu Reva inngat. Rev ajuga tak pernah lupa pesan kakek tua dalam cerita Ibu.
“Selagi kita bisa, berjalanlah terus, jangan pernah berehenti sebelum kita
merasai hari dari usaha kita” . Kecacatan bukan suatu kelemahan , kelengkapan
bukan pula suatu kemenangan. Tak bisa menerima segala sesuatu yang
diperuntukkan oleh Tuhan untuk kita itulah kemenangan sempurna.
* * *
Walau kau ambil Ibu terlalu
cepat, hingga aku tak sempat mendekapnya lebih erat. Namun semua itu cukuplah
utnuk menegakkan pendirian yang mulai goyah.Untuk itu Reva ucapkan terima kasih
Tuhan untuk semua yang Kau anugerahkan. Aku tak pernah takut akan keberadaan
desah napas ini. Jikapun harus pergi , setiadaknya bukan karena aku kalah atau
lelah menerima segala yang kau peruntukkan untukku, Tuhan. Tak banyak memang
yang Reva mengerti dari garis hidup yang Reva jalani kini. Hanya satu kekuatan
itu membuat Reva mampu berjalan hingga kini. Kekuatan sejatinya datang dari
keinginan Reva untuk tetap tegar bersama angan yang melambungkan impian untuk
sembuh.Reva akan tetap menjadikan keyakinan ini sebagai landasan, bukan hanya
sebagai pematri kegundahan hari , namun akan Reva patuhi.
Diary... setiap orang
mempunyai impian, begitupun Reva yang sama seperti mereka. Tapi hingga detik
ini tak banyak yang Reva minta pada Tuhan. Hanya Reva inginkan kekuatan untuk
bisa menjadi diri sendiri dan bisa menerima segala sesuatu yang telah Tuhan
gariskan untuk Reva. Yang bisa Reva terima tanpa keluh kesah dan kecewa. Tanpa
harus menjadi pribadi yang asing pada ketidak sempurnaan diri. Diary... Satu
hari ini Reva begitu bisa merasakan nikmatnya menerima. Tanpa harus ada kecewa
dan keluh kesah yang nyata. Untuk itu Reva ucapkan terima kasih Tuhan, untuk
semua yang Kau anugerahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar