Senin, 13 Juni 2016

Dongeng


          Pagi hari ditengah ruangan ini adalah kesunyian yang tetap terasa purba. Sunyi senyap yag selalu membuatku merasa terpencil dan asing. Ibarat angain yang menggoyangkan cemara senja. Aku sudah terlalu hapal. Tapi tidak dengannya. Seorang tua yang selalu duduk tersudut dibawah cemara, hingga kelam dan pekat menjadi sahabat. Suatu saat ketika anda sengaja berkunjung ke rumahnya. Akan anda temui dia dengan segala kesederhanaannya. Ketika anda membuka pintu, ruang denga sepasang kursi dan meja tamu sederhana akan segera menyapa anda. Juga seulas senyum manis berbingkai kayu yang tak kalah ramahnya, akan menggerakkan otot motorik mulut anda untuk membentuk seulas senyum.
          Setelah berjalan beberapa langkah saja ke arah kiri akan anda temui satu tempat tidur kecil dan kasur keras yang setiamenemani lelaki itu menyelami usia senjanya. Tak nampak sedikitpun rasa enggan ataupun bosan. Meski bisa kia lihat kerapuhan mulai bertahta di sana. Memang sejauh ini tak ada yang istimewa! Tapi mari kita menuju satu ruangan terakhir rumah ini. Nampak jelas puluhan kerajinan rotan yang berjejer rapi yang usianya tak kalah tua dengan pemiliknya.
          Lima tahun yang lalu jari-jari lincah yang cekatan itu menyulap puluhan gulungan rotan itu menjadi benda yang unik dan menarik. Hingga aku pun tak pernah bisa memilikinya. Harganya memang tak seberapa bagiku. Tapi, baginya logam-logam itu adalah cucuran keringatnya dan akan segera mengisi perut kosong itu dengan sepiring nasi. Aku bisa memanggilnya kakek.
          Tak pernah terlintas sedikitpun dibenakku saat itu. Kenapa ia begitu kuat? Berjuang tanpa keluarga dan kerabatnya di usianya yang senja ini. Terkadang ikut menetes pula air mataku. Ketika pada suatu kesempatan aku melihatnya menawarkan aneka kerajinan, digerbang sekolah seusai pelajaran. Tetapi anak-anak berseragam putih abu yang seharusnya lebih bermoral itu justru tak sedikitpun memperhatikannya.
          Ketika seorang siswi yang berdandan ala model dengan sengaja menyenggolnya hingga barang itu jatuh berantakan. Justru ia memarahi kakek malang itu. Aku merasa sangat terhina dengan kelakuannya, Kuhampiri kakek itu dan segera mengajaknya pergi. Dengan susah payah ia menyeret satu kakinya untuk mengimbangiku. Aku merasakan cemoohan dan gunjingan mengantar kepergian kami. Tapi toh, aku enggak peduli. Mungkin mereka pikir seorang ynag cacat tak pantas bergaul dengan mereka, karena hanya menjadi hal yang pantas dipermalukan.


*               *                 *
         
Suatu siang aku berkunjung kerumah kakek . Ia bercerita tentang sanak keluarga yang mengasingkannya karena kecacatan dan kemiskinan yang begitu bersahabat dengannya. Ia juga bercerita tentang perjuangannya untuk menjaga sehelai nyawa agar tetap tegak ditempatnya. Tak sedikitpun kesedihan merajai angannya. Ia tersenyum dan memperlihatkan gusinya yang mulai ompong. Aku pun tertawa . “Nak ,selagi kita bisa, berjalanlah terus dan jangan pernah berhenti sebelum kita merasai hasi dari usaha yang kita lakukan. Kecacatan bukanlah kekalahan, kelengkapan bukan pula suatu kemenangan. Tapi bisa menerima keadaan apapun yang diperuntukkan oleh Tuhan untuk kita. Itulah kemenangan yang sempurna”.
          Satu pesan yang terpatri selalu di relung hatiku. Sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi. Aku tahu dia sudah sampai ke tempat yang tertinggi. Higga tak seorangpun bisa menggapainya. Diary... Itu cerita pengantar tidur yang pernah mendiang Ibu ceritakan kepada Reva. Dua tahun silam, sekaligus menjadi dongeng wasiat darinya karena tak lama setela itu Ibu meninggal.
          Terkadang di benakku merasa heran. Kenapa seakan Ibu begitu tahu apa yang Reva butuhkan sekarang? Dari mana Ibu tahu? Tapi deretan pertanyaan itu akhirnya sirna bersama waktu. Reva tak menyangkal jika cerita Ibu itu adalah satu-satunya yang bisa membuat Reva tetap betahan. Menjadi jiwa yang luar biasa. Ketika tubuh ringkih ini rapuh dan mulai terseok gontai.
          Diary... mata Reva terus berdenyut, menimbulkan nyeri yang teramat. Namun Reva sadar masih perlu ruang lebar di hati ini untuk berharap. Tetap memiliki desah napas ini atau keterpaksaan akan memaksa Reva berdmai dengan kebutuhan. Reva begitu sadar ekonomi keluarga memburuk dan pendapatan Bapak yang tak seberapa memaksa Reva merimbaskan harapan untuk operasi.
          Entahlah, Reva tak yakin apakah jantung ini akan memberika sebagaian dari waktunya. Agar Reva dapat bernapas atau tidak. Diary... Reva tahu sebentar lagi Reva tak bisa menatap langit dan mega senja yang indah. Reva juga tak bisa lagi untuk sekedar menyapamu dan menggoreskan ceritaku. Tapi Reva yakin itu bukan suatu kekalahan, karena Reva bisa melihat lebih jelas tentang kekuatan dalam arti sebenarnya.Reva juga tahu Ibu di sana akan bangga melihat Reva kuat menerima semua ini.
          Reva,  siapa pun yang memiliki alasan untuk hidup, maka ia akan sanggup mengatasi persoalan hidup lewat apapun. Pesan Ibu yang selalu Reva inngat. Rev ajuga tak pernah lupa pesan kakek tua dalam cerita Ibu. “Selagi kita bisa, berjalanlah terus, jangan pernah berehenti sebelum kita merasai hari dari usaha kita” . Kecacatan bukan suatu kelemahan , kelengkapan bukan pula suatu kemenangan. Tak bisa menerima segala sesuatu yang diperuntukkan oleh Tuhan untuk kita itulah kemenangan sempurna.
         
*               *                 *

          Walau kau ambil Ibu terlalu cepat, hingga aku tak sempat mendekapnya lebih erat. Namun semua itu cukuplah utnuk menegakkan pendirian yang mulai goyah.Untuk itu Reva ucapkan terima kasih Tuhan untuk semua yang Kau anugerahkan. Aku tak pernah takut akan keberadaan desah napas ini. Jikapun harus pergi , setiadaknya bukan karena aku kalah atau lelah menerima segala yang kau peruntukkan untukku, Tuhan. Tak banyak memang yang Reva mengerti dari garis hidup yang Reva jalani kini. Hanya satu kekuatan itu membuat Reva mampu berjalan hingga kini. Kekuatan sejatinya datang dari keinginan Reva untuk tetap tegar bersama angan yang melambungkan impian untuk sembuh.Reva akan tetap menjadikan keyakinan ini sebagai landasan, bukan hanya sebagai pematri kegundahan hari , namun akan Reva patuhi.

          Diary... setiap orang mempunyai impian, begitupun Reva yang sama seperti mereka. Tapi hingga detik ini tak banyak yang Reva minta pada Tuhan. Hanya Reva inginkan kekuatan untuk bisa menjadi diri sendiri dan bisa menerima segala sesuatu yang telah Tuhan gariskan untuk Reva. Yang bisa Reva terima tanpa keluh kesah dan kecewa. Tanpa harus menjadi pribadi yang asing pada ketidak sempurnaan diri. Diary... Satu hari ini Reva begitu bisa merasakan nikmatnya menerima. Tanpa harus ada kecewa dan keluh kesah yang nyata. Untuk itu Reva ucapkan terima kasih Tuhan, untuk semua yang Kau anugerahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar