Clara masuk ke kamar dan mengambil tasnya. Ia memasukkan
hanya satu paket pakaian, seluruh tabungan , uang, dan barang berharganya , tak
ketinggalan juga foto mama. Napasnya memburu marah dan kekesalannya memuncak.
Ia mengambil semua lembaran piagam penghargaannya dan pergi menemui papa yang
masih berteriak-teriak mengatur hidup dan masa depannya.
“Cukup!” Bentak Clara sambil melemparkan piagam-piagamnya.
Papa tersentak diam. “aku bukan Dio yang papa bisa atur kehidupannya! Apasih
yang papa mau? Aku sudah berusaha untuk jadi sempurna kaya papa, piagam-piagam
itu buktinya! Tapi apa? Papa engga pernah ngomong sama aku, bahkan memandangkan
aku pun engga! Semua kakak, selalu kakak! Lima tahun pa, sejak mama meninggal. Aku
capek, papa terlalu sempurna untuk menjadi seorang Ayah. Aku mau kehidupanku
kembali” ujar Carla mengakhiri kekesalannya yang bertumpuk.
“Carla! Kembali!” teriak papa yang hanya dijawab dengan
suara langkah kaki Carla yang menjauh.
Carla engga tahan lagi! Engga ada orang yang kuat selalu
dipaksa untuk menjadi yang terbaik! Pada awalnya, Carla merasa bisa
melakukannya dengan sempurna, tapi sejak Mama meninggal dan karna sikap Papa
yang selalu membandingkan dia dengan Dio, kakaknya. Carla engga kuat lagi.
Itulah Papa! Seorang
profesor dan Guru Besar Kriminologi, yang terlalu banyak menuntutnya. Dio
mungkin sanggup, tapi Carla engga! Instingnya malah menuntunnya kearah sosial,
untuk memberikan perhatian pada anak-anak pinggir jalan yang terlantar. Hal yang
sangat sulit untuk diterima Papa. Maka, tak sulit bagi Carla untuk mendapatkan
tempat tinggal bersama. Sebuah panti sosial menerimanya dengan terbuka sebagai
seorang sukarelawan. Di sini ia mulai menemukan arti hidupnya, bahwa perasaan
dibutuhkan oleh orang lain adalah berharga.
Seberharga perasaan bangsa seorang Ayah terhadap
putrinya. Perasaan yang tidak pernah didapatkan oleh Carla.
“pulang ya?” bujuk Dio. Siang ini, tepat tiga hari setelah
Carla meninggalkan rumah, entah bagaimana Dio berhasil menemukan Carla di
pinggir jalan, sedang bercengkerama dengan Siti, salah satu anak panti. Dio
langsung menariknya dan membujuk Carla untuk pulang.
“Papa yang nyuruh kakak?” tanya Carla dingin.
Untuk saat ini , dia engga mau berurusan dengan Papa.
Dio
bersender dan menarik dasinya. Eksekutif muda yang sempurna. Ia menghela napas.
“Kenapa lagi sih Dik? Engga biasanya elo begini”.
“Gue
capek, Kak. Papa engga pernah puas sama apa yang gue bikin. Gue capek-capek
belajar buat jadi juara, terbaik deh. Tapi yang ada, makin gue baik, makin Papa
nuntut. Gue Cuma mau Papa bangga dengan apa yang gue bikin. Bahkan, hal sekecil
itu Papa engga bisa. Dia engga bisa mentolerir hal kecil yang gue bikin.”
“Kayak
tinggal di pinggir jalan dan berinteraksi dengan anak jalanan?”
Carla tersenyum miris. “Ternyata elo
benar-benar ngewarisin bakat Papa. Iya! Tinggal di pinggir jalan dan
berinteraksi dengan anak jalanan. Kalau hal kecil kaya gitu bisa bikin gue
ngerasa berharga, akan gue lakukan. Gue engga butuh hal besar hanya untuk bikin
Papa bangga. Gue engga mau pulang!” Dio berdiri dan bersiap pergi.
“Papa
sakit,” tiba-tiba Carla menahannya dengan sebuah statement. “Dia minta elo
pulang.”Carla berbalik, “Orang sesempurna Papa engga bakal bisa sakit. He is
too good to be sick.” Setelah itu, Carla langsung pergi.
Bukannya
Carla engga punya hati. Dia sayang Papa, secara tinggal satu-satunya orangtua
yang dia punya. Tapi kenyataan bahwa Papa selalu mengatur hidupnya dan
kemungkinan Papa bakal merebutnya dari kebahagiaan ‘kecil’ yang sekarang dia
punya meneguhkan hatinya. Papa masih punya Dio, tapi anak-anak itu engga punya
siapapun yang bisa mereka ajak berbagi.
* * *
“Kak
Clarla lihat deh!” Dina, seorang anak jalanan yang mencari uang dengan mejadi
loper koran mendekati Clara yang sedang mengepang rambut Sarah yang berbau
matahari. “Aku dapat berapa hari ini? Lima ribu. Hebat kan, aku kaya!” Dina
tertawa bersemangat.
Clarla
tersenyum dan mengambil uang tersebut dari tangan Dina. “Dina” Clara memangku
Dina. “Coba hitung deh, uangnya ada tujuh ribu, bukan lima ribu. Kan kemarin
sudah diajarin...” Clara mencubit pipi Dina yang berbedak debu jalanan.
“Hehehe,
aku lupa kak! Tujuh ribu ya? Berarti aku lebih kaya dong sekarang?” Tanya Dina
lagi. Clara mengangguk. Dina langsung melompat dari pangkuan Clara. “Bunda..
aku kaya sekarang!” Terika Dina kepada seorang ibu yang berusia setengah baya
yang mendekati mereka. Ibu Rani, penanggung jawab panti.
“Hebat
dong!” Sambut ibu Rani. “Sekarang kamu mandi ya, sesudah itu tidur siang. Nanti
sore kita belajar lagi ya?” Ibu Rani mengelus lembur kepada Dina yang
mengangguk patuh sambil tersenyum. Lalu ibu Rani mendekati Carla, “Lagi ngapain
kamu Carla?” Tanyanya lembut.
“Ini,
ngepang rambut Sarah, kenapa bu?” Tumben jam segini keluar? Biasanya lagi
sibuk nyiapin cemilan buat anak-anak.” “Iih,
sudah hafal saja!” Cubit ibbu Rsni. Carla tertawa lepas. “Car, kamu sudah
hampir satu bulan loh disini . Enggak di cariin sama orang rumah?” “Kakak sudah
tau kok kalau aku ada di sini. Kenapa? Ibu enggak butuh aku lagi?” “Enggak,
bukan begitu. Ibu, dan anak-anak di sini sangat membutuhkan kamu” Tepis ibu
Rani. “Cuma kamu kan dari keluarga yang lengkap, apa kamu enggak kangen sama
mereka?hmm?”
Carla terhenti
dari kegiatannya. Ia menyenderkan kepala di bahu ibu Rani, yang langsung
mengusap rambutnya, persis seperti mama dulu. “Kangen sih, tapi aku enggak
yakin kalau orang rumah kangen sama aku”.
Saat mereka
terdiam dalam hening, ibu Rani sudah tau semua masalah Carla, makanya dia mau
ngasih Carla tempat tinggal. “Ya sudah, kalau kamu memang betah di sini, ya
enggak apa-apa ibu malah seneng ada yang bantuin. Sudah, sekarang kamu siapin
Sarah ya, nanti sore ada yang mau ngadopsi dia. Ibu mau lanjut masak lagi
deh...” Ibu Rani mencium kening Carla dan perhi ke arah dapur.
Ada yang
mau ngadopsi Sarah? Pikir Carla. Bukannya Carla enggak senang, dia senang karen
itu berarti masa depan Sarah lebih terjamin. Tapi, untuk merek yang tinggal di
panti, adopsi belum tentu hal yang menyenangkan. Kenyataan bahwa mereka akan
berpisah dengan teman-teman mereka dan kebiasaan jalanan mereka yang lama akan
membayangi mereka. Tapi, bagaimanapun juga, semua anak panti berhak mendapatkan
ini. Maka Carla menemui Sarah yang sedang asyik main congklak dengan temannya,
dan mempersiapkannya
* * *
Sekitar pukul lima Sarah sudah siap. Dia sudah bersih,
rapi dan wangi. Semua barangnya juga sudah dimasukkan ke dalam tas. Tapi, Sarah
enggak mau. Dia enggak mau diadopsi, di mau tetap di panti. Apalagi Dina,
adiknya dari tadi menggelayut terus, meraung-raung enggak mau dilepas. Carla
kebingungan. Ini gimana caranya Dina bisa tenang, sekaligus Sarah ingin
diadopsi? Carla menggendong Dina yang menangis sesenggukkan. “Dina, sudah ya.
Nanti Kak Sarah juga bakalan balik kok, jangan nangis lagi ya?” hibur Carla ,
walau dia tahu dia hanya mengucapkan kebohongan, “Kakak kan sudah bilang, kalau
kita sayang sama orang, kita harus bisa ngalah biar orang itu bahagia, ya kan?
Sudah dong jangan nangis”
“Itu namanya bukan sayang, Kakak itu namanya bego!”
teriak Dina. “Kalau kita sayang sama orang, kita harus pertahanin biar orang
itu enggak pergi! Bunda Rani bilang begitu! Pokoknya kak Sarah enggak boleh
pergi!”
Carla terdiam.Kepolosan ucapan Dina merefleksikan dirinya.
Tapi dia kekeuh. Tugasnya mempersiapkan Sarah untuk diadopso, walaupun itu
berarti memisahkan mereka. Carla menggendong Dina yang masih memberontak dan
menggandeng Sarah yang hanya ikut sambil menangis. Carla suah pernah pergi dan
tempat yang dianggap rumah, jadi dia tau pasti rasa sakitnya.
Di halaman, sebuah Opel Blazzer hitam sudah betengger.
Carla menahan Dina sementara ibu Rani dan anak-anak yang lain mengantar Sarah.
Seorang laki-laki turun ari mobil dan Dina hampir saja terjatuh kalau dia enggak
menjambak rambut Carla buat pegangan.
“Kok aku di lepas sih?!” Ucap Dina. “Kakak?” bisik Carla
bingung. Dio turuh dan dengan mobilnya dan menghampiri ibu Rani, dan mengambil
alih tangan Sarah. Carla berjalan pelan, masih mengambang, enggak percaya bisa
jadi begini, “Ngapain kakak ke sini?” “Mengadopsi adik,” Jawab Dio singkat. “terima
kasih ibu Rabi” lanjutnya. “Kakak enggak bisa begini! Kalau kakak mau bawa
Sarah , bawa juga adiknya Dina, mereka bersaudara!” teriak Carla kesal.
“Aku turun, aku turun...” rengkal Dina. Carla menurunkan
Dina, sementara Dio membuka pintu mobil. Untunglah Dina sudah turun, kalau
enggak Dina sudah pasti jatuh karena seluruh otot dan tubuh Carla lemas
seketika, ketika Dio mendorong keluar sebuah kursi roda , dengan papa di
atasnya!
“Pa-ppa??” lirih Carla. Ia menatap kakaknya, mencari
jawaban. “Stroke. I’ve toldyou before” Jawab Dio. Carla berjalan pelan, seakan
sudah enggak punya otot kaki lagi. Papa hanya tertunduk di kursi roda ,
menatapnya. Tangan kirinya seperti terpaku , tapi tangan kanannya terjulur ke
arah Carla, seakan ingin memeluknya. Carla sudah enggak sanggup jalan, ia
berlutut di pinggir kursi roda papa. Jarak yang cukup untuk mendengar dengan
jelas ucapan papa, walau tertatih.
“Carla anak papa. Maafin papa ya sayang. Papa salah, kamu
bisa berguna untuk orang lain, itulah yang terpenting dalam hidup. Papa bangga
sama kamu, anak papa” Setetes air mata bergulir di pipi Carla. Inilah yang
diimpikan dari dulu. Dan papa telah memenuhi impiannya. Dio membantu Cerla
berdiri. “Dina juga ikut kita pulang ya?” Dio mengucap tawaran yang sama untuk
kedua kalinya. Dan, Carla sadar bahwa tindakannya untuk mengangguk adalah
tepat. Betapa bahagianya dia, ketika Dina dan Sarah berebutan masuk mobil
dengan gembira, dan setelah berterima kasih dan pamit pada ibu Rani dan
anak-anak panti, pelukan papa menyambutnya,
Kembali pulang kerumah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar